#R4: CURHAT BALASAN UNTUK ADIK KELAS

*Balasan untuk: Surat Terbuka untuk Bapak Menteri Agama dan Jajarannya.


Kepada

Dik Qistina Barizah

dan Seluruh Adik-adik Camaba yang Gagal dalam Ujian Seleksi Kemenag 2021

di

        Tempat


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Saya, haqirnanfaqir, menulis surat curhat ini bukan dengan kapasitas sebagai Bapak Menteri Agama dan jajarannya, melainkan sebagai kakak kelas yang saat ini kebetulan menjadi mahasiswa di Universitas Al-Azhar, Mesir. Semoga curahan hati saya bisa menjawab curahan hatimu, ya, Dik.

Masjid Jami' Al-Azhar yang bersebelahan dengan Universitas Al-Azhar

Adik berkata bahwa Adik adalah anak kampung. Saya juga anak kampung, Dik, sama sepertimu. Bedanya, orangtua saya hanya guru biasa, bukan pengasuh pondok pesantren sebagaimana orangtuamu. Karena orangtua saya biasa saja, maka anaknya pun biasa-biasa saja. Orang-orang bahkan cenderung ragu ketika saya berniat belajar agama, tidak seperti Adik yang sudah tentu mewarisi semangat dan tekad itu dari Ayahanda tercinta.

Adik pernah belajar di Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), ya? Saya juga pernah belajar di PMDG sepertimu. Kamu berkata bahwa sedari awal memang sudah berniat menuntut ilmu di sana dengan sungguh-sungguh. Itu bagus sekali. Tidak banyak orang yang memiliki niat dan tekad kuat sepertimu. Tak sepertimu, saya ke sana karena ada sedikit unsur paksaan, akibatnya studi di sana agak setengah-setengah. Dengan niat dan tekad Adik yang seperti itu, saya tidak ragu Adik sering mendapat prestasi yang menonjol di sana dan, tentu saja, lulus dengan predikat mumtaz (sempurna). Ah, kita sungguh berbeda.

Dengan prestasi yang gemilang itu, tentulah saya percaya bahwa harapan Ayahanda terhadapmu semakin besar. Katamu, beliau bercita-cita menyekolahkanmu di Mesir agar kemudian kembali ke kampung dan melanjutkan pengembangan pondok pesantren di sana. Siapa pun setuju bahwa itu cita-cita mulia. Saya saja yang tak begitu berprestasi di pondok dibebankan harapan yang lumayan besar oleh orangtua, apatah lagi kamu yang jelas-jelas berprestasi, kan? Saya berdoa semoga kita menjadi seperti yang dicita-citakan. Amin.

Sebagaimana ayahmu, ayah saya juga berharap agar saya bisa melanjutkan studi di Mesir. Saya bertekad mengikuti seleksi beasiswa Gontor dengan segala syarat dan ketentuannya. Kenapa beasiswa? Orangtua saya mengatakan kondisi ekonomi sedang sulit karena adik-adik saya masih harus dibiayai. Alhamdulillah ketika datang kabar kelulusan, saya dinyatakan lulus. Tentu saja saya bahagia. Tak lupa saya kabarkan orangtua saya. Mereka ikut bahagia. Bayangan tentang Universitas Al-Azhar segera berseliweran dalam pikiran, sampai-sampai terbawa mimpi. Anak kampung yang biasa-biasa saja ini akan berangkat ke Mesir? Amboi. Saya semakin tak sabar ingin pergi ke Negeri Para Nabi itu.

Apakah berhenti di situ? Tidak. Tak lama setelah kabar kelulusan, beasiswa saya dibatalkan. Ya, sejujurnya itu akibat kecerobohan saya juga. Kecewa? Tentu saja. Saya merasa keputusan itu sangat menzalimi saya. Bukan hanya beasiswa saya dibatalkan, pengabdian wajib saya pun ditambah setahun lagi. Ditambah lagi, saya tidak mengabdi di tempat yang sama, melainkan "dibuang" ke tempat pengabdian yang jauh. Sudah jatuh, ditimpa tangga, lalu terinjak-injak. Saya kesal. Saya sakit. Saya bahkan sempat mengutuk keputusan Tuhan karenanya (yang kelak saya menyesalinya dan bertaubat). Kenapa harus saya, Ya Tuhan? Kenapa harus sekarang? Serta pikiran-pikiran busuk lainnya. Singkatnya, saya sangat putus asa.

Orangtua saya tidak membiarkan saya terus larut dalam kesedihan. Mereka selalu meyakinkan saya bahwa pasti selalu ada hikmah di balik setiap kejadian. Namun saat itu saya abai dengan perkataan mereka. Hati saya masih terasa sakit. Setahun pengabdian tambahan saya jalani dengan setengah hati. Cita-cita orangtua agar saya ke Al-Azhar saya pendam dalam-dalam. Saya ingin berpindah haluan saja; saya ingin melanjutkan studi di Universitas Islam Negeri (UIN). Saya katakan pada orangtua bahwa studi di Indonesia tidak kalah baiknya, asal tetap semangat dalam menuntut ilmu. Saya juga sudah menghubungi beberapa teman di sana tentang teknis pendaftaran, beasiswa, dsb. Orangtua saya setuju.

Di titik itu, saya sudah sangat yakin bahwa sudah tidak ada kesempatan bagi saya untuk mewujudkan cita-cita orangtua. "Mustahil berangkat ke Al-Azhar," batin saya. Namun, qadarullah, tepat setelah pengabdian, saya ditawari teman saya untuk ikut program kursus bahasa di Pusat Studi Islam dan Bahasa Arab (PUSIBA) bersamanya. Saya katakan padanya bahwa biayanya cukup mahal dan orangtua saya tidak bisa menyanggupinya untuk saat ini. Namun dia memberitahu saya bahwa khusus saat ini, biaya bulanan diturunkan cukup signifikan akibat pandemi. Saya segera mengabarkan orangtua tentang hal itu dan, alhamdulillah, proposal saya disetujui.

Saya mengikuti seluruh alur kegiatan belajar mengajar (KBM) PUSIBA dan lulus setelah beberapa bulan, lalu setelah menunggu lama proses dan segala tetek-bengek birokrasi pengurusan visa, akhirnya saya jadi juga berangkat ke Mesir. Saat itu saya masih tidak percaya bahwa saya akan benar-benar pergi ke Mesir. Teman-teman saya yang dulu lulus beasiswa Gontor bersama saya saja belum berangkat, kok saya sudah mau berangkat duluan? Di sinilah akhirnya saya menyadari kebenaran perkataan orangtua saya dulu: "pasti selalu ada hikmah di balik setiap kejadian". Ketika saya akhirnya menginjakkan kaki di Mesir, lisan saya tak henti-hentinya mengucapkan hamdalah. Sejak saat itu, saya kapok suudzon kepada Allah. Astaghfiruka wa atubu ilaik!

Oh, iya, sebenarnya, Al-Azhar tidak pernah membatasi kuota mahasiswa yang akan belajar di sini. Ia membuka gerbang sebesar-besarnya bagi siapa saja yang ingin belajar. Namun, saya seringkali mendengar uneg-uneg para senior di sini tentang membludaknya jumlah Mahasiswa Indonesia di Mesir (masisir) dari tahun ke tahun yang mana kemudian berbanding lurus dengan peningkatan problematika di kalangan masisir sendiri. Saya yang sudah tinggal di sini selama beberapa saat dan telah mengalami beberapa kejadian pun mulai mengamini perkataan mereka. Jadi, pembatasan kuota yang dilakukan oleh Kemenag itu bukan berarti sengaja menghalangi niat mulia kamu untuk belajar. Keputusan itu tentu diambil setelah melalui diskusi panjang. Saya harap kamu bisa memahami ini.

Sungguh, saya bisa merasakan kesedihanmu dan teman-teman lain yang belum lulus Ujian Seleksi Kemenag tahun ini. Namun, jangan sampai hal itu membuatmu berkecil hati. Buang jauh-jauh pikiran bahwa kamu adalah beban negara atau memiliki kesalahan terhadap negara. Kamu tidak bersalah, begitu pun negara. Anggap saja takdir belum berpihak padamu saat ini. Lagipula, ketidaklulusanmu di Ujian Seleksi Kemenag bukanlah akhir dari cita-citamu, pun bukan pula akhir dari hidupmu. Ada banyak jalan menuju Roma, kata pepatah. Percayalah, Allah menunda sesuatu yang indah bagimu untuk menjadikannya jauh lebih indah. Qad yuakkhiru Allahu aljamiil liyaj'alahu ajmal. Rencana Allah pasti lebih indah. Kita hanya harus percaya dan berusaha sekeras kemampuan kita. Saya yakin, prestasimu dulu di Gontor yang gemilang itu pasti akan membawamu ke masa depan yang (juga) gemilang. Percayalah!

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Hormat saya,

haqirnanfaqir  (@fauzanalimu)

Komentar

  1. MasyaAllah, semua ketentuan yang baik menurut adik adik belum tentu yang terbaik menurut Allah. Tetap semangat adik adik semua, walaupun adik adik sekalian belum diberi kesempatan untuk belajar di Mesir, pasti Allah memberikan jalan yang terbaik untuk selain itu. Semoga adik adik tetap mempunyai tekad yang kuat dalam menuntut ilmu agama dan semoga bisa berkontribusi membangun peradaban bangsa menjadi lebih bagus untuk kedepannya. Amin. Salam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat. Amin, ya rabb. Terima kasih sudah mampir di lapak kecil ini, ya~

      Hapus
  2. Balasan
    1. Yang mana tentu hal itu dilakukan setelah ikhtiyar serta doa yang sama kuatnya. Terima kasih sudah mampir, Bu~

      Hapus
  3. Kita berencana, orang tua berencana, semua orang berencana, dan Allah sebaik baiknya perencana.. Proud fo you sobat @fauzan semoga kita tetap semangat terus menuntut ilmu di negri para nabi ini 🙏

    Dan para adik2 tetap ber ikhtiyar karna Allah.. Bismillah InsyaAllah. Ada jalan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Indeed, Allah is the best planner.

      I am proud of you too, Alvaro, my homie. Keep inspiring! Thank you for visiting my little blog, tho~

      Hapus
  4. Tulisannya membuat saya terharu .. bisa saya jadikan imun spirit buat kegagalan saya masuk kesana .. dr sini saya belajar bhw ketika Allah hilangkan satu impian dr kita, sebenarnya Allah sedang mempersiapkan impian yg jauhh lebih indah untk kita .. krn Dia lebih mengetahui akan kemampuan dan kebutuhan hamba Nya, Dia yang lebih mengetahui kapan waktu yg tepat bagi hamba Nya dalam mengemban amanah
    Terimakasih kak Fauzan Ali, tulisan yg amat menginspirasi
    Baarakallah fik 🤲

    BalasHapus
  5. MasyaaAllah setiap dr kita memiliki nilai juang masing - masing,
    Mengenai langkah yg belum berhasil sepatutnya, tidak merasa menjadi yg paling tidak adil.
    Krn d atas langit masih ada langit.
    Terimakasih @fauzanali
    Tulisannya sangat bermanfaat!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, begitulah kehidupan. Ada kalanya kita harus mundur sejenak beristirahat sembari kembali mengatur strategi serta mengisi amunisi, baik mental, fisik, maupun spiritual untuk meraih kemenangan di peperangan selanjutnya.

      Terima kasih kembali! x)

      Hapus
  6. abang fauzan mantap kali bang 👍👍👍
    CLM DH panutan kuuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, seseorang-yang-tak-diketahui-namanya!
      Jadi penasaran, apa kamu pengurus DH atau justru anggotanya? Wkwk~

      Hapus
  7. Barokallah mantap ustadzi
    Sangat memotivasi

    BalasHapus
  8. Masya Allah....betapa bahagianya orangtua kalian ..... semoga anak2 ku mendapat hidayah agar mau belajar ilmu agama d pondok .... aamiinnn

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya rabb. Semoga Allah kabulkan harapan dan doa kita semua.

      Hapus
  9. Alhamdulillah..bittaufiq wannajah 👍👍👍

    BalasHapus
  10. Masya Allah, barakallah fiikum ☺👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa fiikum barakallah, habibi. Masykur awi!

      Hapus
    2. Masya Allah..
      Terharu sekali membaca suratnya.. Saya teruskan surat ini ke Putri Saya yg saat ini sedang belajar di Azhar. Sebagai bahan motivasi dia utk semakin semangat dan bersungguh2 dalam menuntut ilmu d sana. Putri saya juga alumni Gontor 2019.
      Trmksh atas share nya,Ust Fauzan..
      Semoga Allah sll melindungi,memudahkan,melancarkan dan memberi keberkahan segala urusan Ust Fauzan..
      Aamiin Allahumma Aamiin...

      Hapus
    3. Saya alumnus tahun 2018, Bu. Tapi sepertinya seangkatan dengan saya di sini, karena saya juga baru sampai.

      Aamiin, ya rabb. Semoga seluruh doa baik ini kembali pula kepada Ibu. Terima kasih banyak. :)

      Hapus
    4. Aamiin Allahumma Aamiin...
      Terima kasih kembali,Ust Fauzan...

      Hapus
  11. Ust. Fauzan mungkin Antum kenal dengan Akmalul Insan Ananda Kami Alumni 2018 yg Gagal juga ke Azhar. Tetap semangat dimanapun menuntut ilmu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kenal, Bu. Dia teman baik saya. Dari yang saya lihat, sepertinya passionnya lebih tersalurkan dengan keadaannya yang sekarang. Yah, meskipun pandangan saya tentu tak sepenuhnya benar. Apa pun itu, semoga kelak dapat memberikan manfaat yang sama baiknya dengan kami yang sedang belajar di sini. Amin.

      Hapus
  12. Alhamdulillah bangga rasanya baca blog ini, sehat terus ya abang uzan semoga adik2mu juga bisa mengikuti semangatmu #salam dr uwi dan teis di gp3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga Uwi dan Euis juga selalu dimudahkan dalam belajar, diberikan kesehatan, dan dilancarkan segala urusannya. Aamiin, ya rabb.

      Hapus
    2. Aamiin ya robbal alamiin..

      Hapus

Posting Komentar