#R5: PEMANTASAN DIRI

Saya dan teman-teman kelas 6B tahun 2018

Suatu saat ketika saya duduk di kelas 5 KMI di Gontor, guru mata pelajaran Fisika saya berhalangan hadir sehingga tidak bisa melanjutkan materi yang diampunya. Sesuai sistem, guru yang absen akan digantikan dengan guru pengganti. Mudarris mubaddil, kami menyebutnya. Guru pengganti tidak akan mengisi pelajaran sesuai jadwal yang ada, akan tetapi ia diberikan kebebasan untuk mengisi pelajaran apa pun yang menurutnya bermanfaat, termasuk bercerita tentang pengalaman hidup (hikayah).

Biasanya kalau sudah seperti itu halnya, saya akan bergegas memanjangkan tangan saya untuk mengukur meja, atau bahasa kekiniannya: tidur. Kalau Anda bertanya kepada setiap alumni Gontor, "Kelas berapakah yang paling berat?" hampir pasti jawaban mayoritas adalah kelas 5. Jadi, merupakan hal yang lumrah jika Anda berjalan menyusuri komplek kelas 5 dan menemukan hampir atau bahkan lebih dari setengah isi kelas sedang "berdzikir" karena gerakan kepala yang mengangguk-angguk sambil memejamkan mata. Hehehe.

Ajaibnya, siang itu saya tidak merasakan kantuk sama sekali. Padahal malam sebelumnya saya piket malam menjaga asrama. Akhirnya saya mencoba memperhatikan apa yang dibicarakan guru pengganti itu. Seingat saya, yang menjadi guru pengganti saat itu adalah pengurus bagian administrasi. Beliau bercerita tentang beberapa hal yang tidak saya ingat. Namun, ada sekelumit perkataan beliau yang masih saya ingat sampai saat ini, yaitu tentang pemantasan diri.

"Sejatinya hidup ini sangat mudah. Seseorang yang cerdas akan selalu mampu memantaskan diri di lingkungan mana pun dia berada. Ia hidup layaknya bunglon. Bukan berarti dia munafik atau bermuka dua. Maksudnya, dia bisa beradaptasi dengan lingkungannya dengan cepat sehingga terhindar dari segala ancaman. Ketika zaman dulu menuntut dia untuk menjadi A, dia siap. Zaman menuntut B, dia sudah menjadi B." kata beliau.

"Misalnya saya. Saya sebenarnya tidak terlalu paham dengan pelajaran Nahwu. Namun ketika staf jadwal KMI (Kulliyyatul Mu'allimin al-Islamiyyah, pen.) sudah menentukan jadwal saya seperti itu, maka mau tidak mau saya harus siap. Saya harus memantaskan diri agar ketika saya mengajar nanti, saya tidak malu dengan murid-murid saya. Saya harus cepat menguasai pelajaran ini, agar wibawa saya sebagai guru tidak hilang." lanjut beliau.

Kira-kira seperti itulah penggalan cerita beliau yang saya ingat. Saya saat itu hanya manggut-manggut saja sambil membatin, "Benar juga, ya...."

Sekarang ketika sudah menjadi alumnis, saya seringkali menyaksikan suatu kejadian yang membuat saya teringat cerita guru pengganti itu. Misalnya, ketika ada alumnus yang bersikap tidak selayaknya santri. "Loh kan memang sudah bukan santri lagi?" Benar, tapi bukankah orangtuamu memasukkanmu ke pondok pesantren dulu agar kamu bisa belajar etika dan ilmu agar menjadi orang yang baik? Seharusnya nilai-nilai yang diajarkan di pondok tidak luntur begitu saja sesaat setelah melangkahkan kaki keluar dari gerbang pondok.

Itulah mengapa setiap kali para santri akan liburan, Pak Kyai selalu mengingatkan kepada kami bahwa di dahi kami terpampang besar tulisan PMDG (Pondok Modern Darussalam Gontor). Ketika kami berbuat salah, bukan hanya nama sendiri yang tercoreng, namun juga nama keluarga, dan terlebih lagi nama keluarga besar pondok. Seperti halnya pesan beliau untuk tidak "mbruwah". Jangan seperti singa kelaparan yang keluar kandang, ia akan melahap apa saja yang ada di depannya. Filosofi-filosofi ini terus menempel di kepala saya sampai saat ini.

Saya selalu mencoba menerapkan apa yang saya pelajari itu dalam kehidupan. Kalau pun belum bisa saya praktekkan, setidaknya nilai-nilai itu sudah melekat di kepala saya. Saat ini zaman maju dengan sangat cepat. Satu dasawarsa yang lalu, smartphone canggih merupakan barang yang sangat langka. Saat ini, hampir semua orang menggenggamnya. Setengah abad yang lalu, peradaban manusia baru saja menemukan komputer modern. Saat ini, hampir setiap rumah memilikinya. Kalau kita tidak memantaskan diri di zaman serba cepat ini, tentu saja kita akan ketinggalan.

"Malas tertindas, lambat tertinggal, berhenti mati."

Yah, namun sebagaimana teori lain yang mudah dituturkan, tentu saja prakteknya tetap sulit. Bahkan saya sendiri sampai saat ini masih kesulitan untuk memantaskan diri sebagai seorang alumnus. Seringkali ekspektasi orang lain terhadap saya begitu besar. Semakin besar ekspektasi mereka, semakin berat pula bahu saya memikulnya. Tapi selama apa yang mereka ekspektasi dari saya adalah hal-hal baik, maka saya akan menganggapnya sebagai doa untuk kemudian mengembangkan diri menjadi lebih baik lagi.

Jadikanlah hati nurani (domir) sebagai patokan kita dalam segala pekerjaan. Ketika kita ingin melakukan pekerjaan A lalu ada bisikan dari hati kita untuk tidak melakukannya, maka sebaiknya jangan lakukan. Apalagi sebagai alumni pondok pesantren. Sering-seringlah bercermin. Tanyakan pada diri sendiri, "Pantaskah aku berbuat demikian?" dan seterusnya. InsyaAllah, jika kita terus berusaha untuk menjadi lebih baik dan menjadikannya mindset, tak hanya orang-orang di sekeliling yang akan mendukung, semesta pun akan ikut membantu mewujudkannya.

Komentar