#R1: MALCOLM X

Setidaknya ada dua film yang menceritakan kisah hidup salah satu tokoh muslim paling inspiratif menurutku: Malcolm Little a.k.a Malcolm X a.k.a El-Hajj Malik El-Shabazz, yaitu: 1) Malcolm X (1992) dan 2) One Night in Miami (2020). Ada pula yang berbentuk serial, yaitu Who Killed Malcolm X? (2020).

Kemarin aku sudah tamat menonton kedua filmnya, sedangkan serialnya juga autobiografinya (ditulis oleh Alex Haley) mungkin nanti setelah ujian termin 1. Jadi, siapa sih Malcolm X ini?

Dia adalah tokoh kulit hitam Amerika yang sangat lantang memperjuangkan kemerdekaan dan hak-hak orang kulit hitam di Amerika. Rekannya, yang dulu merupakan rivalnya, adalah Dr. Martin Luther King Jr. Nama yang tak asing, 'kan?

Little adalah anak cerdas yang tumbuh di lingkungan yang buruk. Ayahnya tewas dibunuh anggota Ku Klux Klan (KKK), rumahnya dibakar, dan ibunya single parent yang miskin. Akibatnya Little terjebak narkoba, perampokan, pergaulan bebas, dsb hingga ia dijebloskan ke penjara.

Di dalam penjara, ia bertemu dengan Baines. Baines adalah salah satu anggota Nation of Islam (NOI), partai muslim kulit hitam di Amerika yang saat itu dipimpin oleh Elijah Muhammad. Mereka berkenalan, dan akibat akhlak Baines yang baik, Little pun masuk Islam.

Di penjara pula Baines mengajarkan Little berbagai macam ilmu pengetahuan. Ia membaca kamus dan buku yang ada di perpustakaan penjara. Little bertransformasi total di sana.

Setelah 6 tahun lebih berada di penjara, akhirnya Little bebas. Ia mengganti namanya menjadi Malcolm X. X adalah variabel Matematika yang berarti "tak diketahui". Ia menghapus nama Little sebab itu adalah "nama budak".

Tempat pertama yang ia kunjungi adalah kantor NOI. Ia bertemu dengan Elijah Muhammad dan mem-bai'at-nya. Tak lama kemudian karena kegigihannya dan kehebatannya dalam berbicara (ia sangat artikulatif), ia dilantik menjadi Menteri Nasional/Jubir untuk partai.

NOI sesungguhnya bukan partai Islam. Elijah Muhammad mengajarkan bahwa orang kulit putih adalah devils (setan). X yang sejak kecil selalu dianiaya orang kulit putih tentu menelan doktrin tersebut begitu saja.

X berpidato di banyak podium bahwa orang kulit putih dan kulit hitam harus dipisah, maksudnya secara ekonomi, sosial, dan politik. Ia berbanding terbalik dengan "rival"-nya, Dr. King Jr. X menuntut pembalasan atas kekerasan sedangkan King menolak keras membalas kekerasan.

Aksinya itu tentu saja mengundang perhatian banyak pihak. Agen Federal (FBI) dan Agen Intelijen (CIA) mulai memata-matai aktivitasnya. Lawan politiknya pun mencari-cari kesalahannya. Menunggunya untuk melakukan "blunder".

Hal yang ditunggu pun tiba. Ketika JF Kennedy wafat ditembak secara misterius, X berkomentar bahwa itu adalah sesuatu yang pantas ia dapatkan. Publik sontak marah. Elijah Muhammad, pemimpin NOI, memberinya hukuman.

X kecewa. Orang yang sangat ia hormati ternyata mudah dihasut. Hukuman yang diberikan Elijah kepadanya adalah "tutup mulut" atau bungkam. Bungkam dari press, media, dan bahkan dari jamaahnya sendiri yang berbasis di New York.

Setelah hukuman usai, X memutuskan pergi ke Mekah untuk menunaikan haji. Ia disambut langsung oleh bangsawan Saudi Arabia, Pangeran Faisal. Perjalanan haji inilah titik balik terbesar seorang Malcolm X. Di Mekah ia menyaksikan keindahan Islam. Tak ada rasisme di sana. Manusia dari seluruh penjuru dunia berkumpul, bercengkerama, bergaul, tanpa ada sekat.

Ia sadar bahwa apa yang selama ini diajarkan kepadanya adalah tidak benar. Bahwa Elijah Muhammad ternyata manusia hipokrit pun manipulatif. Orang kulit putih bukanlah setan, begitu pula orang kulit merah, kuning, dsb.

Malcolm X, sekali lagi, bertransformasi. Sepulang dari Mekah, ia mengubah namanya menjadi El-Hajj Malik El-Shabazz. Ia kembali ke Amerika dengan visi baru, visi seorang muslim sejati.

Ketika sampai di Amerika, terkuak kabar bahwa Elijah menggauli sekretarisnya sendiri. X, atau Malik, tentu tak percaya. Dia langsung meng-konfirmasi hal tersebut ke 2 sekretaris Elijah. Jawaban mereka membuat X kaget dan memantapkan keputusannya untuk keluar dari NOI.

Ia kemudian membentuk organisasi Islam yang sesungguhnya. Pandangan politiknya berubah 180°. Ia yang dulu ekstremis sekeras baja berubah menjadi selembut kapas setelah mengenal Islam yang sejati.

Lawannya menjadi kawan, dan kawannya? Ya, menjadi lawan. Elijah dan kroninya merencanakan pembunuhan Malik. Eksistensinya tentu membahayakan NOI. Mereka mencoba membakar habis rumah Malik. Untungnya ia selamat kabur dengan keluarganya.

Teror terus menghampiri, hingga akhirnya pada tanggal 21 Februari 1965, ia berhasil dibunuh tepat setelah mengucapkan salam ketika akan berpidato di atas podium. Ada 5 orang pelaku penembakan dan semuanya adalah anggota NOI. Umur singa itu masih sangat muda; 39 tahun.

Maka jika ada seseorang bertanya kepadaku, siapakah tokoh muslim abad 20 paling inspiratif menurutmu? Aku tak akan ragu mengatakan, "Tentu saja Malcolm!"

Dia sangat progresif. Awalnya seorang pencuri, lalu menjadi politisi muslim ekstremis paling ditakuti, hingga akhirnya menjadi muslim sejati. Teruslah mencari kebenaran dan tunjukkan kebenaran itu kepada dunia meski taruhannya adalah nyawa! Info (lumayan) lengkap tentang Malcolm X ada di http://malcolm-x.org/

Komentar

Postingan Populer