#R2: PRIVILESE DAN KERJA KERAS
"Apakah faktor yang paling menentukan kesuksesan seseorang? Apakah privilese atau kerja keras?" Aku pernah mendengar teman-teman ngobrol tentang hal ini beberapa kali. Aku gak berani respon pertanyaan tersebut, karena memang aku belum punya jawabannya. Kali ini aku bukan mau jawab, tapi cuma mau mengeluarkan opini aja tentang hal itu yang mungkin bisa mengantarkan kalian ke jawaban.
Sebelumnya aku pengen bahas dulu apa sih privilese itu? Ya, secara literal privilese artinya hak istimewa. Contohnya, Wari punya orangtua super kaya, masuk di jajaran pengusaha miliarder. Nah, menjadi anak dari seorang miliarder adalah privilese, artinya si Wari ini memiliki kelebihan yang tak dimiliki dari orang-orang lain yaitu "keturunan miliarder".
Secara teori, orang yang memiliki privilese akan memiliki peluang sukses yang jauh lebih besar dibanding yang tidak. Dalam konteks si Wari tadi, dia bisa saja mewarisi perusahaan ayahnya yang memiliki profit miliaran itu tanpa harus bersusah payah bekerja keras banting tulang puluhan tahun untuk mencapai pucuk perusahaan.
Sedangkan Rawi, seseorang yang seumuran dengan Wari, dilahirkan dalam keadaan yang sama sekali berbeda. Ayahnya seorang buruh lepas. Ibunya seorang ibu rumah tangga yang nyambi jualan di warung depan rumah. Bagi Rawi, untuk menduduki posisi seperti halnya Wari membutuhkan effort dan kerja keras yang sangat besar. Bahkan dengan kerja yang sangat keras itu pun masih belum tentu bisa mengantarkannya ke posisi Wari.
Mungkin bisa diibaratkan privilese itu mobil balap dan kerja keras itu skill balapan. Ketika Messi memiliki banyak koleksi mobil balap dari model Yamaha, Honda, Suzuki namun dia tidak memiliki skill yang disyaratkan untuk menjadi pembalap, maka ya dia tak akan pernah sukses dalam arena balap mobil. Sedangkan Ronaldo, meski dia tak memiliki mobil sebagus milik Messi, dengan skill yang dia punya dia mungkin saja mengalahkan Messi di track.
Namun, bagi Ronaldo yang tak memiliki privilese sebagaimana Messi, tentu saja dia harus melakukan usaha ekstra untuk menang; dia harus bekerja keras. Dia harus mempelajari dengan baik track yang akan ia lewati, kapan ia harus masuk ke pit stop, juga faktor eksternal lain seperti cuaca. Tentu faktor keberuntungan pun punya andil yang sangat besar.
Begitu pun dengan Wari. Wari dengan segala hak istimewa yang dia wariskan dari ayahnya tidak bekerja keras sebagaimana Rawi, tentu saja pada akhirnya Wari tidak akan sampai ke "garis finish".
Contoh lain, misalnya ada seseorang namanya Imam. Dia ini anak ulama terkenal. Ayah dan kakeknya berasal dari keluarga pesantren besar di daerah Jawa Timur yang sudah memiliki puluhan cabang di seluruh Indonesia. Menjadi anak ulama pun menurutku adalah privilese. Dia memiliki hak-hak istimewa yang tak dimiliki oleh "santri biasa" di pesantrennya. Kitab-kitab turats di rumahnya lengkap, mulai dari yang membahas Aqidah, Hadits, Tafsir, dsb,
Sedangkan Umam lahir di sebuah kawasan kumuh di Jakarta. Ayah dan ibunya bercerai. Teman dan lingkungannya sangat terbiasa dengan praktek narkotika, pergaulan bebas, mabuk-mabukan, serta sederet kenakalan lainnya. Umam hanya mendengar ceramah agama saat bulan Ramadan saja. Al-Qur'an di rumahnya pun sudah robek, apalagi kitab turats. Menurut kalian, berapa persen kemungkinan untuk Umam menjadi ulama seperti Imam? Pikirkan sendiri.
Dari beberapa contoh di atas, aku yakin kalian sedikit-banyak bisa menyimpulkan apa itu privilese. Sekarang kembali ke pertanyaan di atas. Menurut kalian, apakah privilese benar-benar menentukan kesuksesan seseorang dibandingkan dengan kerja keras? Eits, simpan dulu jawaban kalian di dalam kepala masing-masing. Aku masih belum selesai.
Dari contoh pertama, antara si Wari dan Rawi memiliki perbedaan mendasar yang cukup signifikan. Sebelum kita menjawab pertanyaan, kita coba cari dulu apa sih tolak ukur kesuksesan di sini? Dalam hal ini, orang sukses adalah yang sanggup mencapai tampuk tertinggi di perusahaan. Tapi apakah berhenti di situ saja? Nanti dulu. Sebab kalau hanya itu tolak ukurnya, tentu saja Wari sudah menang.
Menurutku, sukses itu bukan diukur dari awal maupun pertengahan, tetapi di akhir. Maksudnya, Wari boleh saja dengan mudah mencapai posisi teratas di perusahaan yang dibangun ayahnya, tapi apakah privilese saja mampu untuk mempertahan "kesuksesan" itu sampai akhir? Ketika Wari hanya ongkang-ongkang kaki saja ketika menjadi pimpinan, bukan mustahil tampuk kepemimpinannya akan dicabut oleh Dewan Direksi Perusahaan atau yang lebih buruk lagi perusahaannya bangkrut total dan akhirnya bubar.
Sedangkan Rawi yang lahir di keluarga biasa-biasa saja mungkin awalnya terlihat, ya, biasa-biasa saja. Namun karena kerja kerasnya selama 24/7, akhirnya dia mampu menjadi pemilik warung ibunya. Eh, maksudnya menjadi pimpinan perusahaan sebagaimana Wari. Jangan bayangkan kerja keras Rawi di sini dengan nguli seharian atau ngebadut di Bundaran HI. Kerja keras di sini adalah kerja cerdas. Artinya dia bisa membangun network yang baik dengan rekan kerja dan pelanggan dengan baik, juga selalu berusaha memikirkan terobosan-terobosan yang fenomenal, dst.
Sebuah tim sepak bola tidak disebut sebagai juara ketika di awal atau pertengahan musim, namun ia dinobatkan juara ketika mendapat poin tertinggi di akhir musim. Seorang pembalap juga tidak dikatakan juara ketika berada di posisi pertama saat berhasil melewati putaran pertama atau kedua, namun dianugerahkan champion trophy ketika ia berhasil menjadi yang terdepan di putaran terakhir.
Jadi, kalah di awal ya biasa saja. Itu bukanlah akhir hidup. Jadikan itu bahan untuk introspeksi diri. Pelajari kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan dan jangan ulangi kesalahan yang sama. Jangan pula lantas berpuas diri ketika sudah unggul atau sedang di atas. Bisa jadi di akhir ada yang berhasil menggulingkanmu dari posisi itu.


Biyuuh...bocah kok pintermen. Semoga nak Fauzan sukses dan kembali ke tanah air. Ojo lali.
BalasHapusAamiin, ya rabb. Semoga beneran dipinterkan oleh Allah.
HapusTerima kasih banyak atas doanya, Pak. Suatu saat pasti akan kembali, jika Allah berkehendak.