#R3: KOMPLEKSITAS RASA
Pernahkah kalian jatuh cinta dengan seseorang lalu merasakan hal-hal yang dirasakan oleh setiap pecinta, seperti menjadi buta, tuli, dan bodoh dalam satu waktu? Well, aku pernah. Aku tidak tahu secara pasti apakah yang kurasakan benar-benar cinta, namun aku bisa pastikan bahwa aku memang saat itu menjadi tunanetra, tunarungu, serta tunagrahita secara bersamaan.
"Kenapa deskripsi tentang jatuh cinta menurutmu sedemikian mengerikan?" Hei, percayalah, bukan hanya aku yang akan berkata begini! Butuh bukti nyata? Temanku sendiri. Dia bisa menghabiskan waktu 24/7 dengan kekasihnya dalam telepon, padahal cuciannya sudah menumpuk tinggi selama beberapa hari. Masih kurang? Ya sudah, mau tak mau aku bawakan nama Qays, si pecinta Layla yang dijuluki Majnun. Sastra dan prosa mengenai kegilaannya telah direkam dengan baik oleh sejarah. Tak ada yang lebih "gila" daripada dia, 'kan?
Aku selalu berpikir, kenapa cinta bisa sebegitu menyakitkan? Seperti misalnya seseorang melihat orang yang dia cintai bersama orang lain. Mungkin dia bukan siapa-siapa baginya, hanya sekedar teman. Tapi, percayalah, seorang pecinta akan menjadi sebegitu pencemburu ketika melihat kekasihnya bersama orang lain. Cemburu itu sakit lho. Tidak, pencemburu bukan berarti posesif. Justru kalau dia tidak cemburu kepada kekasihnya, kita harus bertanya, "Apakah dia benar-benar cinta kepadanya?"
Rasa yang dinamakan cinta ini pun seringkali membuat seorang pecinta berpikir berlebihan tentang kekasihnya, atau istilah kekiniannya "overthinking". Ketika pesan WA-nya tak dibalas beberapa jam, pikirannya langsung berjalan-jalan ke 5 benua sekaligus. Apakah dia sedang begini, apakah dia begitu, dsb. Padahal bisa saja kekasihnya sedang menceret sehingga harus berulang-ulang pergi ke kamar kecil atau gawainya (baca: ponselnya) tak sengaja masuk ke tepian sofa sehingga dia kesulitan menemukannya? Akhirnya sang pecinta ini uring-uringan sendiri. Terjebak dalam pikiran kelam yang dia ciptakan sendiri. Sakit, 'kan?
Aku juga tak bisa memungkiri bahwa dalam beberapa hal, rasa cinta itu menimbulkan kebahagiaan yang menenangkan hati. Dan, bukankah memang demikianlah cinta itu seharusnya? Hadirnya membawa ketenangan dari hiruk-pikuk kehidupan yang memekakkan. Ia menyembuhkanmu dari luka yang menusuk juga menciptakan luka di hatimu. Kalau hadirnya hanya membuatmu lebih tuli dan menambah luka, bisakah ia tetap disebut cinta?
Pada tahap ini, aku menyadari bahwa cinta itu seperti pisau bermata dua. Ia bisa membahagiakanmu atau menyedihkanmu; ia bisa menyembuhkanmu atau melumpuhkanmu; ia bisa membuatmu tertawa terpingkal-pingkal atau menangis tersedu-sedan.
Percayalah, begini-begini, aku pun pernah merasakan cinta. Rasa sakit yang disebabkan oleh hal yang so-called cinta ini justru membuatku bahagia, sebab aku adalah seorang masokhis. Hahaha, bercanda! Aku normal, dan aku merasakan sakit yang amat jika disakiti. Alih-alih seorang masokhis, aku malah seorang melankolis dalam urusan percintaan. Yah, seperti kebanyakan orang.
Aku insaf dan sangat yakin bahwa tidak ada yang namanya kebahagiaan absolut dalam percintaan. Maksudku, sebagaimana hidup, percintaan pun akan mengalami fase maju-mundur, pasang-surut. Suatu ketika, hubungan bisa menjadi sangat kacau sehingga kita tak berbicara berhari-hari dengan kekasih. Di saat yang lain, kita bisa menjadi begitu dekatnya seakan-akan tsunami pun tak bisa membuat jarak. Crazy!
Aku juga percaya bahwa hubungan yang baik adalah hubungan yang dibangun dua-arah. Sang lelaki harus aktif, begitu pun sang wanita. Kalau salah satunya pasif dan tidak terbuka, hubungan yang kandas sudah terlihat di depan mata. Bahkan pasangan yang sama-sama aktif saja bisa berpisah, apatah lagi yang tidak! Aku tidak akan menjadi seseorang yang pendiam jika dengan pasangan. Setidaknya, tidak sependiam diriku yang biasanya. Ibaratnya, seperti saat kamu bersama seorang sahabat. Seterbuka itu.
Tidak, ketika aku berbicara tentang hubungan dan pasangan, aku tidak bermaksud hubungan pacaran. Aku mengatakan dunia pernikahan, sebab aku sudah tak lagi berniat untuk pacaran. Sebisa mungkin aku akan menghindari hubungan itu. Kalau pun aku dekat dengan seseorang, aku hanya ingin mengetahui dirinya lebih dalam. Kalau menurutku cocok (dan mau denganku tentunya), ya suatu saat aku akan memberanikan diri datang ke orangtuanya. Meski entah kapan.
Apakah menurutmu ada yang salah dalam pemahamanku akan cinta?


Komentar
Posting Komentar